Senin, 26 Agustus 2013

Anas Sindir Partai Demokrat Lewat Pagelaran Wayang Pandawa Labuh



BLITAR - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, mengganti acara open house Idul Fitri 1434 H di rumah ibunnya di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dengan pagelaran wayang kulit.

“Ini sebagai ganti acara open house yang biasanya saya lakukan setiap Lebaran,” tutur Anas yang didaulat naik panggung memberi sambutan, Senin, 26 Agustus 2013 malam.

Entah sengaja atau tidak, wayang kulit dengan dalang Ki Entus Susmono mengambil lakon Pandawa Labuh atau Pandawa Dadu.

Kisah Mahabarata yang bercerita tentang tergulingnya kekuasaan Pandawa oleh Kurawa karena dicurangi tokoh antagonis Sengkuni.

Sebagai simbolisasi, Anas menyerahkan sebuah wayang Bratasena kepada anggota DPR RI Gede Pasek Suardika.

Oleh Pasek, Bratasena yang juga dikenal dengan nama Werkudara, Bimasena atau Jagal Abilawa, dipasrahkan kepada dalang Entus Susmono.

“Dalam cerita Mahabarata, Bratasena ini yang membunuh Sengkuni,” terang Anas.

Sekadar mengingatkan, sebelum terguling dari jabatanya sebagai Ketum Partai Demokrat, Anas sempat melontarkan tudingan adanya politik Sengkuni di Partai Demokrat.

Para Sengkuni itulah yang tidak menginginkan Anas menjadi orang nomor satu di partai.

Dalam kesempatan itu, Anas juga menggunakan toilet untuk para penonton wayang sebagai sindiran politik.

“Silakan untuk para penonton yang ingin ke belakang. Di sini ada toilet. Namun mohon maaf, jika toilet untuk wanita dan laki-laki menjadi satu, biar tidak ada yang salah masuk,” sindirnya dan sontak disusul tawa bergema.

Seperti diketahui, belum lama ini Menteri ESDM yang juga petinggi Partai Demokrat , Jero Wacik, tersesat masuk ke toilet wanita. Apa yang dilakukan Jero Wacik itu diduga untuk menghindari wartawan yang belakangan gencar menanyakan soal kasus korupsi di SKK Migas.

Sementara dalam kesempatan itu dalang Entus juga menyatakan telah keluar dari Partai Demokrat. Ia memilih keluar setelah Anas tidak lagi memimpin.

“Tadi pagi KTA Partai Demokrat yang saya miliki telah saya sobek. Tentunya seorang makmum sepatutnya berhenti kalau imamnya telah berhenti,” ujarnya.

Pagelaran wayang semalam suntuk itu dihadiri banyak politisi, aktivis, seniman, dan budayawan. Pada kesempatan itu Anas juga memperkenalkan organisasi barunya Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI).
(Solichan Arif/Koran SI/ton)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar